728x90 AdSpace

Latest News
Senin, 13 Februari 2017

Belajar Literasi di Puncak Gunung

SinarRakyat.Com | Biarpun sekolah ndeso tapi kualitasnya tidak kalah dengan sekolah kota. Ungkapan itu cocok untuk SMA N 1 Sooko, Ponorogo. Bagaimana tidak, kemarin sekolah yang terletak di puncak gunung ini bekerja sama dengan Sekolah Literasi Gratis (SLG), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Ponorogo menggelar pelatihan literasi dengan tema “Membangkitkan Semangat Literasi”.

SMA N 1 Sooko tidak main-main dalam kegiatan ini, mereka menghadirkan pemateri yang luar biasa. Ia adalah Hernowo, penulis hebat dari Bandung yang sampai tahun 2016 sudah menulis 37 judul buku.

Acara yang dihadiri oleh para guru sewilayah Sooko dan Pulung, serta siswa-siswa tingkat SMP/SMA Kecamatan Sooko ini dimulai pukul 08.30 WIB. Diawali dengan sambutan kepala SMA 1 Sooko, yang memberikan motivasi kepada para peserta untuk terus menerus berliterasi.

“Literasi adalah mentalitas dunia. Dengan literasi kita mampu mengubah dunia. Dalam dunia pendidikan, literasi adalah sumber pembelajaran. Oleh karena itu sebagai guru kita harus berliterasi. Semoga dari kegiatan ini, bapak/ibu serta adik-adik nanti akan lebih semangat lagi dalam berliterasi. Karena sejatinya kehidupan tidak bisa lepas dari literasi,” tutur Sugiyanto diawal acara.

Pada kesempatan itu, narasumber Hernowo, memberikan materi dengan judul “Aplikasi Mengikat Makna”. Diawali dengan ceritanya ketika masih menjadi tenaga pendidik di salah satu SMA di Bandung. Saat menjadi guru, Hernowo mengaplikasikan mengikat makna melalui beberapa cara, salah satunya lewat musik. Sebagaimana yang kita tahu, remaja saat ini tidak bisa lepas dari yang namanya musik. Sehingga hal ini akan mempermudah anak untuk menerapkan apa yang diharapkan oleh Hernowo.

“Saya dulu pernah menjadi guru bahasa Indonesia kelas dua SMA selama tiga tahun. Dalam kurun waktu itu siwa-siswi saya mampu menerbitkan dua buku, yakni Breaking the Habits dan Lirik Larik..” Breaking the Habits berawal dari catatan harian sedangkan lirik larik.. berawal dari mendengarkan sebuah lagu.” Jelas penulis kelahiran Magelang itu.

Melalui musik seseorang dapat mengikat makna. Hernowo menjelaskan bahwa teknik ini dilakukan melaui beberapa tahap, yakni:1). Anak memilih lagu, 2). Mendengarkan dan mempelajari lirik, 3). Menafsirkan lirik, 4). Menghubungkan lirik lagu dengan kenyataan diri, dan 5). Menulis teks sesuai dengan apa yang dirasakan setelah mendengar lagu dan kenyataan diri.

“Melalui kegiatan ini, secara tidak langsung anak-anak sudah mengikat makna. Kalau dulu melalui lagu saya bisa menyuruh anak-anak menulis sebuah puisi. Bapak/ibu guru juga bisa menerapkan hal ini kepada murid-muridnya, saya jamin siswa tidak akan bosan karena musik adalah bagian dari hidup mereka.” Pungkas narasumber dari Bandung itu.

Di lain kesempatan, Satiyem yang merupakan guru sekaligus peserta mengungkapkan rasa bangganya karena bisa hadir dalam acara tersebut.

“Saya tidak rugi datang ke acara ini. Melalui acara ini saya mendapat ilmu baru khususnya tentang teknik menulis puisi melalui lagu.” Ungkap guru Mts. AS-salam, Sooko itu.

Acara bertajuk kepenulisan yang juga bagian dari SLG tersebut merupakan bagian kegiatan sosial bersama untuk menumbuhkan kebermaknaan melalui jalan literasi. Terutama bagi para para guru dan anak-anak, dengan kemaknaan itu maka mereka akan tau bahwa literasi itu tidak bisa lepas dari kehidupan kita.

Di akhir, Sutejo selaku wakil dari SLG STKIP PGRI Ponorogo memberikan kejutan kepada SMA N 1 Sooko. Kejutan itu berupa pemberian buku gratis sebanyak 50 eksemplar.

“SMA 1 Sooko ini merupakan salah satu sekolah ndeso yang peduli literasi. Oleh karena itu, sebagai wujud apresiasi, kami dari SLG STKIP PGRI Ponorogo akan memberikan buku sebanyak 50 eksemplar secara cuma-cuma kepada SMA di puncak gunung ini.” Tutur Sutejo di penghujung acara. (Sri Wahyuni)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Item Reviewed: Belajar Literasi di Puncak Gunung Rating: 5 Reviewed By: Almaidah Online