728x90 AdSpace

Latest News
Friday, September 15, 2017

8 Kabupaten di Jabar Darurat Kekeringan, Ribuan Hektar Lahan Terancam Gagal Panen


SundaPos.Com |
Delapan kabupaten/kota di Jawa Barat darurat kekeringan. Meski belum dirasa masif, namun musim hujan diprediksi baru turun pada September mendatang.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, situasi tersebut terjadi karena dampak musim kemarau. Tercatat selama 60 hari tidak ada hujan turun.

”Darurat kekeringan mungkin di beberapa daerah saja. Darurat itu di Ciamis, Cianjur, Indramayu, Karawang, Kuningan, Sukabumi, Banjar dan Tasikmalaya,” katanya di Gedung Sate, Bandung, kemarin (13/9).

Dia menilai kondisi kekeringan di Jabar masih relatif biasa. Namun, di delapan kota/kabupaten tesebut dirasakan cukup parah. ”Sebab, (musim) kemaraunya biasa-biasa juga. Tidak ada hujan lebih dari 60 hari hanya di beberapa tempat. Di semua tempat masih di bawah 60 hari,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Aher itu menambahkan, dari laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, pada September nanti di Jabar memasuki musim hujan.

Meski demikian, Pemprov Jabar telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk membantu daerah yang mengalami kekeringan seperti menurunkan bantuan pompanisasi.

Sementara itu, petani di  Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung terancam gagal tanam. Sebab, saluran irigasi yang mengairi sawah di wilayah tersebut mengering.

Menurut pantauan, padi yang baru tumbuh setinggi 10-15 cm dan usia sekitar satu dua bulan itu dibiarkan dan banyak ditumbuhi rumput liar. Selain itu tanah sawahnya pun mengering dan menimbulkan retakan.

Salah satu petani di Kampung Patrolsari Desa Patrolsari, Kecamatan Arjasari, Jeje Jaenudin mengaku, seluruh padi yang ditanam di lahan miliknya akan terancam gagal tanam jika tidak segera dialiri air. Sebab, tidak ada pasokan sedikitpun.

Jeje mengungkapkan, dia sudah tidak punya modal lagi untuk memasang mesin pompa air dan selang sepanjang 200 meter untuk menyalurkan air dari Sungai Cikieum ke sawah miliknya.

Sejauh ini dia sudah menggelontorkan Rp 6 juta untuk digunakan biaya membajak sawah, membeli benih dan pupuk.

”Saya sudah rugi Rp 6 juta. Saya kita tidak akan kemarau panjang. Saya hanya pasrah saja, ya mau apalagi, kecuali ada bantuan dari pemerintah,” urainya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung Tisna Umbaran menjelaskan, di musim kemarau ini, pihaknya mendapatkan laporan sekitar 1.880 hektare lahan pesawahan di Kabupaten Bandung terancam mengalami gagal panen.

”Laporan gagal panen ke Dinas Pertanian tersebar di Nagreg, Cicalengka, Cikancung, Ciparay dan Ciwidey,” kata Tisna.

Lebih jelas lagi Tisna mengatakan, luas lahan yang terancam gagal panen ada sekitar 1.880 hektare tersebar di Kabupaten Bandung yang ringan 25 hektare, sedang 15 hektare, berat 30 hektare dan puso delapan hektare.

Tisna menilai, kejadian tersebut bukan merupakan suatu bencana, kekeringan sudah rutin terjadi di musim kemarau. Begitu di musim hujan kerap terjadi banjir.

Untuk mengurangi angka ancaman gagal panen, lanjut Tisna, pihaknya sudah menerjunkan penyuluh pertanian untuk mensosialisasikan dan menyampaikan agar menjelang musim kemarau untuk alih komoditi.

”Kami sudah melakukan penyuluh menyampaikan agar menjelang musim kemarau petani untuk alih komoditi dari sawah ke palawija atau sayuran seperti di Banjaran, Cangkuang sudah ditanami sosin, kangkung dan lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, di Cimahi salah satu wilayah yang terkena dampak tersebut adalah Kampung Cimenteng RW 11 Kelurahan Cipageran Keca­matan Cimahi Utara. Karena sulitnya mendapatkan air bersih, warga kampung Cimenteng harus rela mengantre berjam jam. Bahkan mereka ada yang sampai rela untuk begadang.

Dari pantauan, terlihat warga Cimenteng berdatangan dan mengantre menggunakan ember dan jeriken untuk penampungan air. Mereka mengantre di depan sumber air dari pipa PDAM yang ada di pinggir jalan Cimenteng.

Ipah Saripah, 42, salah seorang warga Cimenteng mengatakan, biasanya dalam kondisi normal, aliran air PDAM langsung tersambung ke rumah rumah warga dengan menggunakan pipa. Namun beberapa minggu ke belakang, tak ada lagi air bersih yang mengalir ke rumahnya.

”Enggak ada ngocor sama sekali. Makanya kita terpaksa antre di sini. Walapun ngocornya sedikit, tapi lumayan lah masih ada,” papar Ipah saat ditemui di selasela mengantre air, di Kampung Cimenteng RT 01/RW 11 Kelurahan Cipageran, Kota Cimahi, kemarin (13/9).

Ipah mengungkapkan, dirinya bersama warga lain membutuhkan waktu hampir 2 jam lamanya hanya untuk mendapatkan air sebanyak 10 ember kecil. Hal itu disebabkan air yang mengalir sangat kecil. Dia mengaku, air tersebut digunakan untuk keperluan seharihari seperti minum, mandi, dan masak.

Atikah, 60, warga lainnya juga mengaku membutuhkan air bersih untuk keperluan seharihari termasuk minum. Bahkan dirinya harus bisa memanfaatkan air yang dia ambil sehemat mungkin.

”Kalau yang banyak uang sih bisa aja beli buat minum. Lah saya buat makan seharihari saja susah. Ya sekarang mah diirit irit aja,” katanya.

Sementara itu ditemui terpisah, Kepala Humas PDAM Tirta Raharja Dadang Supriadi mengaku, kurangnya air bersih yang tersalurkan kepada para pelanggan PDAM Tirta Raharja itu disebabkan karena adanya penurunan kapasitas debit air baku yang ada di Situ Lembang ke sungai Cijanggel.

”PDAM Tirta Raharja hanya bisa mengolah air 62 liter per detik dari kapasitas 176 liter per detik. Saat ini kita melayani pelanggan Cimahi kurang lebih 15.840 sambungan rumah, terbagi tiga kecamatan. Yang paling terdampak adalah wilayah selatan,” katanya, kemarin.

Dengan berkurangnya debit air ini, Dadang menuturkan, otomatis akan berpengaruh terhadap tingkat pelayanan pelanggan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, pihaknya harus melakukan penjadwalan dalam mengalirkan air.

”Yang biasa mengalir 24 jam, sekarang terpaksa dibagi-bagi, terutama di wilayah barat dan timur. Sedangkan wilayah yang sulit dijangkau secara teknis kita melakukan bantuan mel­alui tengki. Kita drop ke beberapa wilayah, kita siapkan 4 armada,” tuturnya.

Dadang menjelaskan, untuk masyarakat yang meminta droping dengan menggunakan tanki bisa langsung ke kantor pelayanan di tempat biasa melakukan pembayaran. Setelah itu pihak PDAM akan melakukan penjadwalan pengiriman.

”Hampir dua minggu ini terjadi antrean. Kami stand­bye selama 24 jam untuk melayani masyarakat, ada satpam yang jaga. Bagi pelanggan bisa memperlihatkan bukti pembayaran,” pungkasnya

Sumber: JP

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Item Reviewed: 8 Kabupaten di Jabar Darurat Kekeringan, Ribuan Hektar Lahan Terancam Gagal Panen Rating: 5 Reviewed By: Sunda Pos