Header Ads

Menag: Masyarakat Mudah Terpecah Karena Berita Hoax


SundaPos.Com |
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, para generasi muda di seluruh Tanah Air perlu berpikiran lebih luas dalam membangun bangsa dan negara.

"Saat ini generasi muda dan umumnya masyarakat cenderung memikirkan sesuatu yang rasanya tidak perlu diperdebatkan bersama," katanya di Pariaman, Sabtu, saat memberikan kuliah umum kepada para mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di kota tersebut.

Sebagai contoh, masyarakat lebih suka membahas tentang apakah penting seorang laki-laki memakai jenggot atau tidak. Kemudian sejauh manakah arti penting seorang laki-laki muslim menggunakan celana di atas mata kaki.

Perbuatan tersebut sering kali diperdebatkan masyarakat sehingga dinilai hanya menghabiskan waktu dan energi positif sehingga mengabaikan hal yang jauh lebih penting.

Pihaknya mengajak masyarakat khususnya para generasi muda agar lebih memikirkan jauh ke depan bagaimana secara bersama membangun bangsa dan negara.

Pada kesempatan kuliah umum tersebut, orang nomor satu di Kementerian Agama tersebut juga menyampaikan mudahnya masyarakat saat ini terpecah belah akibat berita hoax.

Sebagai contoh, pada masa zaman Khalifah Utsman bin Affan memimpin, ia difitnah oleh muslim karena dituduh melakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) dan cenderung hanya berpihak kepada kerabat dekat saja selama memimpin. Hal tersebut berujung kepada pembunuhan.

Kemudian, pada zaman kepemimpinan Ali Bin Abi Talib juga difitnah oleh berita bohong yang dilontarkan masyarakat dan berujung kepada kematiannya.

"Ali Bin Abi Thalib tewas dibunuh oleh muslim penghafal Al Quran karena menerima berita sepihak yang menyebutkan bahwa pemimpinnya tidak adil," ujar dia.

Poin yang sampaikan dalam riwayat tersebut ialah bagaimana masyarakat khususnya generasi muda tidak asal menerima suatu informasi atau berita tanpa melakukan filterisasi.

Ia juga menyampaikan bahwa dewasa ini salah satu penyebab perpecahan adalah karena seseorang memiliki sifat fanatik berlebihan tentang sesuatu, namun tidak memiliki pengetahuan luas tentang yang dibahas, demikian Menag dikutip dari Antara, Sabtu (4/11/2017).

No comments

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.