Header Ads

Inilah Pengakuan Haji Hendy, Pemilik Lahan Kelapa Sawit yang Diperlakukan Seperti Teroris


SundaPos.Com | Terkait perkara pengrusakan tanaman kelapa sawit milik Hi. Hendy T. Haroen Bin. Hi. Haroen Chalik yang diduga dirusak oleh oknum PT. Silva Inhutani Lampung seluas kurang lebih 7 ha, yang terletak di Dusun Pasir Jati, Kelurahan Talang Batu, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji terjadi pada hari jum'at tanggal 5 januari 2018 lalu. 

Kuasa hukum Hi. Hendy T. Haroen atas nama Ir. Tonin Tachta Singarimbun, SH akan menuntut pihak PT. Silva Inhutani Lampung sampai kepersidangan. Hal tersebut sempat heboh dan menjadi viral dibeberapa media nasional.

Hi. Hendy T. Haroen saat dirinya menghadiri Sidang Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri Manggala (senin,22/18), kepada jakartadaily.id menjelaskan kronologis asal usul lahan tanaman kelapa sawit miliknya tersebut yang sudah ia miliki dan dikelola kurang lebih 28 tahun.

Dirinya menerangkan bahwa legalitas lahan tersebut jelas dan lengkap akte jual belinya, dirinya pun merasa tidak terima atas tindakan eksekusi tanah miliknya yang dilakukan oleh pihak Kejaksaan Negeri Tulang Bawang yang diduga tidak profesional dan manusiawi.

"Awal mulanya tanah tersebut saya beli pada tahun 1994-1995 dan disaksikan oleh camat dan kepala desa setempat yang saat ini sudah meninggal dunia, pada saat itu saya kelola secara bertahap dan semampu saya menanam singkong, jenggol ataupun bertani lainya untuk menambah penghasilan dan itupun saya lakukan secara bertahap semampu saya, sehingga pada tahun 2004-2005 saya mulai menanam sawit," ungkap Hendy.

"Memang saya akui, pada saat pertama saya membeli tanah tersebut tidak langsung mengurus legalitas atau akte jual belinya, sehingga pada tahu 2000-2001 saya urus legalitas tanah tersebut dan lengkap berserta Akte Jual Beli (AJB) nya, namun dengan bergulirnya waktu saat tanaman kelapa sawit saya mulai besar, pada tahun 2009-2010-an pihak dari pada PT. Silva Inhutani Lampung mulai memasuki lahan milik saya dan mau membersihkan tanaman saya dengan menggantinya oleh tanaman karet, pada saat itu anggota saya yang berkerja menegur secara baik kepada mereka agar jangan menanamnya karena tanah itu milik saya, akhirnya mereka  atau orang-orang PT. Silva Inhutani Lampung tidak jadi mau menanam karet dilahan milik saya, namun beberapa hari kemudian datang lagi mandor atau orang berbeda mau melakukan hal yang sama, sehingga kembali di ingatkan oleh anggota saya dan akhirnya tidak jadi kembali," lanjut Hendy.

Pada saat itu, imbuhnya, saya sempat dilaporkan oleh PT. Silva Inhutani Lampung kepada pihak kepolisian terkait lahan milik saya, tapi setelah menjalani pemeriksaan dan legalitas tanah saya jelas akhirnya tidak ada masalah, tapi setelah sekian tahun lamanya dari kejadian itu, tanah saya kembali digugat dan dieksekusi oleh pihak kejaksaan tanpa koordinasi sebelumnya dan sangat tidak manusiawi. Pada hari sabtu, tepatnya tanggal 9 Desember 2017,  saya ditangkap dirumah saya di bandar lampung dan disergap layaknya rumah seorang teroris oleh pihak kejaksaan, pintu saya digedor, lampu dimatiin dan saya diperlakukan sangat tidak manusiawi dihadapan keluarga saya pada saat itu," Ungkap Hendy dengan nada kesal.

Setelah hal itu terjadi, kembali saya mendapat kabar dari anggota saya serta masyarakat di mesuji, tepatnya pada hari senin tanggal 5 Januari 2018 telah terjadi pengrusakan tanaman kelapa sawit milik saya kurang lebih 7 ha yang dilakukan oleh orang yang mengaku dari PT. Silva Inhutani Lampung," terang Hendy.

Dengan perkara pengrusakan tanaman kelapa sawit seluas kurang lebih 7 ha miliknya tersebut yang diduga dilakukan oleh PT. Silva Inhutani Lampung serta tindakan eksekusi yang dilakukan oleh pihak Kejaksaan Negeri Tulang Bawang yang dinilai tidak sesuai prosedur dan tidak manusiawi terhadap dirinya, Hi. Hendy T. Haroen Bin Hi. Haroen Chalik melalui Kuasa Hukumnya Ir. Tonin Tachta Singarimbun, SH, akan menuntut pihak Kejaksaan Negeri Tulang Bawang dan PT. Silva Inhutani Lampung untuk mengganti rugi baik secara materi selama dirinya ditahan maupun tanaman kelapa sawit miliknya yang dirusak seluas kurang 7 ha serta meminta apa yang menjadi haknya dikembalikan dan meminta dibebaskan pada Sidang Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri Manggala Tulang Bawang.

Yang jelas saya meminta atau akan menuntut pihak atas apa yang sudah dilakukan pihak Kejaksaan Negeri Tulang Bawang baik terkait eksekusi lahan saya maupun yang telah dilakukan kepada saya secara tidak manusiawi tersebut, dan saya pun meminta agar saya dibebaskan pada Sidang Peninjauan Kembali (PK) kalau saya memang terbukti tidak bersalah, selain itu saya meminta hak saya dikembalikan serta saya meminta ganti rugi selama diri saya ditahan terhitung dari hari Sabtu tanggal 9 Desember 2017 sampai saat ini," tutup Hendy.

Jurnalis : Chandra Foetra S










No comments

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.