Bandung, Sundapos– Orientasi kader tim pendamping yang diselenggarakan di Kecamatan Kutawaringin diagendakan berlangsung selama 5 hari dari tanggal 6 sampai 10 Juni 2022 dengan sekitar 51 orang peserta dalam satu pertemuan. Kadis H. M Hairun, S.H.,M.H mengungkapkan tujuan orientasi ini yaitu memberikan pemahaman kepada para tenaga pendamping keluarga yang terdari 3 unsur yaitu kader Keluarga Berencana, tim pengerak PKK desa dan rw serta medis yang ada di desa tersebut . Ketiga elemen ini bersatu menyamakan persepsi dan mengunjungi sasaran yang diperkirakan akan menjadi sumber stunting.
Sasaran yang dimaksud yaitu calon pengantin atau remaja usia dibawah 11 tahun, ibu-ibu hamil, dan ibu yang baru melahirkan/bersalin. Untuk mengatasi stunting perlu dilakukan dari hulu sampai ke hilir. Menurut H. M Hairun dari hulu dikeluarga yaitu calon pengantin harus diberi pemahaman jangan menikah di usia dini dibawah 11 tahun karena resiko anak yang dilahirkan terkena stunting tinggi dan kematian ibu pada saat melahirkan cukup tinggi karena secara reproduksi belum siap untuk hamil dan melahirkan. Ibu hamil yang sedang mengandung janin harus diberi pemahaman kalau ibu tidak memahami bagaimana pemberian vitamin, gizi yang seimbang bayi akan mengalami berat ringan dan selama kehamilan minimal melakukan kunjungan sebanyak 4x ke bidan untuk mengecek kehamilan. Ibu bersalin juga harus diberi pemahaman di usia balita merupakan masa emas kalau kurang gizi kemungkinan stunting jadi tinggi.
H. M Hairun berharap para kader bisa menyampaikan kepada para sasaran tadi sehingga anak menikah di usia ideal, bumil memahami perawatan selama kehamilan sampai lahir sehat selamat, dan bayi yang dilahirkan bisa tumbuh berkembang secara baik.
Di Kecamatan Kutawaringin ini hanya beresiko stunting sehingga menurut Zaenab, UPT KB Kutawaringin kegiatan ini bersifat preventif atau pencegahan dari resiko stunting. ( Andri )








Komentar