Penulis: Windy Yulianti, S.P.
Bandung, Sundapos.online- Akhir-akhir ini marak sekali kita jumpai anak-anak mulai dari usia balita sampai remaja memainkan lato-lato, mainan yang sedang viral yang terbuat dari plastik terdiri dari 2 bulatan besar seperti bola yang berat digantung oleh tali, dimainkan dengan cara digoyang-goyangkan dengan berbagai cara mulai dari arah ke kanan-kiri; atas bawah; putar-putar semakin mengasyikkan apabila bisa bertahan begitu lama dengan sangat cepat. Tapi ternyata di balik keasyikan itu, ada bahaya yang mengintai. Infromasi yang terkini memberitakan ada seorang anak yang luka di mata sebelah kanan akibat terkena pecahan serpihan dari lato-lato yang dimainkannya. Korban harus menjalani operasi dengan total 5 jahitan di matanya karena lato-lato yang dimainkannya pecah dan serpihannya masuk ke bagian mata (Artikel ini sudah tayang di tvonenews.com pada hari Sabtu, 14 Januari 2023. Judul Artikel : Lato-Lato Memakan Korban, Anak di Kalbar Alami Luka di Mata)
Hal ini tentunya sangat membuat khawatir dan panik terutama orang tua yang mempunyai anak, sehingga perlu adanya sosialisasi akan pemahaman tentang mainan edukatif yang aman dan bermanfaat bagi perkembangan anak.
Adanya mainan menjadikan kehidupan anak-anak ceria dan begitu gembira, karena memang menurut ilmu psikologi tahapan perkembangan anak di usia adalah masa bermain. Tentunya bermain tidak akan seru tanpa adanya mainan, apalagi zaman sekarang yang sudah begitu banyak perkembangan teknologi melahirkan banyak mainan menarik yang bisa dimainkan tidak hanya bagi anak-anak tapi bahkan sampai orang dewasa. Hal tersebut akan membawa dampak positif maupun negatif saking banyaknya pilihan yang ditawarkan, karena tidak semua mainan aman atau bermanfaat bagi yang memainkannya. Sehingga perlu adanya pemahaman yang benar tentang mainan yang menunjang kepada pertumbuhan dan perkembangan anak, dalam hal ini adalah mainan edukatif. Yang dimaksud dengan mainan edukatif adalah mainan yang dapat meningkatkan kemampuan anak dan membantu mereka tentang suatu hal (wikipedia).
Mainan edukatif mempunyai banyak manfaat, diantaranya yang dikemukan oleh Dra,Mayke.Stedjasaputra,M.Si (seorang psikologi anak dan play therapist dari Fakultas Psikologi UI:
Melatih konsentrasi misalnya menyusun puzzle
Melatih kemampuan motorik misalnya saat menjumput, meraba, melempar, mengangkat dan sebagainya
Mengenalkan konsep sebab akibat misalnya memasukkan benda yang kecil ke dalam benda yang besar
Melatih bahasa dan wawasan misalnya saat bermain dibarengi dengan penuturan cerita
Mengenalkan warna dan bentuk misalnya dengan bentuk dan warna mainan yang variatif
Dengan memahami manfaatnya, semoga bisa menjadi acuan masyarakat terutama orang tua lebih selektif memilih mainan untuk anaknya.
Dalam salah satu penelitian yang akan kita jadikan contoh, yaitu di TK Putra Ijo Aceh Besar, banyak orang tua yang masih rendah tingkat kepeduliannya terhadap mainan anak. Penelitian ini menggunakan metode deskriftif yaitu sebanyak 25 orang tua mengisi angket dan diwawancarai. Kesimpulan dari hasilnya bahwa orangtua lebih cenderung membeli mainan tidak atas kehendak anak tapi kehendak orang tua.
Maka perlu adanya kesadaran dan pengetahuan orang tua terutama ibu tentang pentingnya mainan edukatif bagi anak dan memerhatikan aspek manfaat dari mainan yang akan dimainkan oleh anaknya, memerhatikan bahan yang digunakan pun juga aman. Tentunya sosialisasi yang gencar dan tepat sasaran akan lebih mengefektifkan pemasyarakatan mainan edukatif ini.
Sosialiasi yang mungkin bisa dilakukan untuk memasyarakatkan mainan edukatif ini lebih efisien dan efektif oleh lembaga kemasyarakatan atau pendidikan, misalnya:
Sekolah : saat penerimaan murid baru, pembagian rapor, pengenalan program, atau bahkan bisa seminar khusus tentang mainan edukatif
RT/RW/kelurahan : saat pemeriksaan kesehatan di pos yandu, program PKK, arisan, seminar kesehatan dan pendidikan
LSM/organisasi kemasyarakatan lainnya : seminar, demo, dan lainnya
Kesimpulannya mainan edukatif sangat penting dan harus disosialisasikan kepada masyarakat. Peranan orang tua, sekolah dan lembaga kemasyarakatan akan sangat membantu untuk memasyarakatkan mainan edukatif ini.
DAFTAR PUSTAKA
Conny R.Semiawan. (2008). Belajar dan Pembelajaran Pra Sekolah dan Sekolah Dasar. Jakarta: Indeks.
J.Ellys. (2009). Kiat meningkatkan Potensi Belajar Anak. Bandung: Pustaka Hidayah,
Kurnia, (2011). Bermain dan Permainan Anak Usia Dini. Pekan Baru: Cendekia Insani.
Fadhilah Suralaga. (2020). Psikologi Pendidikan. Depok: PT Rajagrafindo Persada.







Komentar