Penulis : Nani Juningsih, S.Pd.I
Bandung, Sundapos.onine- Pendidikan menjadi salah satu sarana yang berpengaruh besar dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas. Melalui pendidikan, dapat tercipta generasi berkarakter yang unggul, yang beriman dan bertakwa, yang mampu mengaktualisasikan diri menjadi ujung tombak kemajuan peradaban.
Sebagaimana tercantum di dalam Al Quran Surat At Tahrim ayat 6 yang artinya “ Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka….”Dari ayat tesebut para mufashir berpendapat bahwa Qur’an surat at tahrim ayat 6 tersebut berisi tentang tanggung jawab seorang mumin terhadap diri dan keluarganya supaya terhindar dari siksa api neraka. Maka merupakan kewajiban untuk membentengi diri dan keluarga dari panasnya api neraka.
Dari sana,, kalau direnungkan kita sebagai orang tua, kita harus bisa menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka. Bagaimana caranya ? Subhanalloh…. Sebenarnya begitu berat tugas kita sebagai orang tua dalam mendidik anak, itu tidak bisa main-main. Bayangkan kalau siksa atau hukuman di dunia ada batas waktunya, sebentar, dan diakhiri dengan kematian, tetapi kalau siksa neraka itu tidak ada batas waktunya, ntah kapan sampai habis dosa yang diperbuat, naudzubillahhimindzalik…..
Anak adalah amanah yang Alloh titipkan kepada kita sebagai orang tuanya. Mari kita didik, kita jaga mereka, jangan sampai kita sia-siakan, karena itu semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh, yang menitipkan amanah anak tersebut, Kita balik bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah kita sudah benar dalam mendidiknya, sudah sesuaikah dengan kehendak-Nya, dengan penuh cinta atau masih banyak bolongnya? Mari mengevaluasi diri kita masing-masing…..
Setiap anak berbeda dan unik. Ada anak yang mudah beradaptasi, ada anak yang perlu pemanasan , dan ada pula anak yang sulit. Masing-masing tipe anak tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada di tipe manakah anak kita ?
Ada di tipe mudahkah? Kelebihan di tipe mudah adalah dia suka bergaul, berani, menyenangkan, lincah, suka tantangan. Sedangkan kekurangannya yaitu dia relatif sulit dikendalikan, butuh pengamanan karena dia menyukai tantangan beresiko.
Atau ada di tipe perlu pemanasan? Tipe ini kelebihannya adalah dia berhati-hati terhadap lingkungan baru, tidak penakut. Sedangkan kekurangannya yaitu perlu sedikit waktu untuk beradaptasi, perlu dorongan awal untuk mencoba sesuatu yang baru atau menghadapi tantangan.
Atau termasuk tipe yang ke tiga? Tipe yang ke tiga yaitu tipe sulit. Kelebihannya dari tipe sulit ini adalah mudah diatur dan dikendalikan, karena anak tersebut sangat tergantung kepada orang lain. Sedangkan kekurangannya yaitu terlalu tergantung kepada orang lain / pengasuh, sulit beradaptasi, dan cendrung pemalu.
Untuk itu mari kita pertahankan dan tingkatkan kelebihan anak kita itu, dan doronglah, motivasi terus supaya kekurangan yang dimilikinya bisa diatasi atau bisa diperbaiki. Marilah kita sebagai orang tua untuk bisa membuktikan supaya anak tercinta kita bisa merasakan dan menikmati cinta dan kasih sayang kita sebagai orang tuanya. Bagaimana membuktikannya ?
Pertama bersikap lembut. Mengapa harus bersikap lembut ? Karena di dalam Al Qur’an surat Ali Imran : 159 menyatakan :“ Maka karena rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka dan mohonlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan.”
Kedua yaitu menawarkan kebaikan, “ Anak biasanya memberikan tanggapan (reaksi ) yang lebih baik jika diberi senyum dan diajak bicara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang “ ( Buku Dr. Bursteln’s Book on Children ).
Dan ke tiga adalah pahami alasan anak, perintah bersikap lembut juga berlaku bagi orang tua yang menginginkan anaknya patuh. Kesalahan bagi anak itu wajar, karena mereka masih dalam proses belajar. Semua anak mempunyai harga diri sebagaimana orang dewasa. Mereka tidak ingin harga dirinya diinjak-injak, walaupun oleh orang tuanya sendiri, walaupun harus dengan cara melawan. Salah dan benar diukur dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan jiwa anak.
Kita tidak boleh menjelek-jelekkan anak dengan tuduhan malas dan bandel, tak usah pula mengungkit-ungkit kesalahan mereka yang sebenarnya mereka tahu, bicaralah dengan lembut dan nada yang tenang, sambil tetap memberikan senyuman.
Semoga kita berhasil sukses menjadi orang tua yang bisa meraih kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat………..Aamiin.







Komentar